The falling leaf doesn’t hate the wind

Malam tadi akhirnya aku membaca novel itu. Karangan tereliye yang judulnya daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Kenapa ‘akhirnya’? karena itu kuputuskan setelah berpikir ulang apakah akan membaca novel itu atau tidak. Jujur, selama ini aku selalu berusaha untuk menjauhi topic-topik bacaan yang kukira ‘galau’. Bukannya apa-apa, hanya tidak menyenangkan saja jika kemudian setelah membaca bacaan tersebut, perasaan ku ikut terseret di dalamnya. Sama halnya ketika aku membaca salah satu tetralogi IlanaTan yang judulnya Autumn In Paris. Sukses membuatku menangis sesenggukan ketika teman sekamarku tidur lelap di malam hari. Memang cerita itulah menurutku yang paling menarik, bisa memainkan emosi pembaca nya sedemikian rupa. Bukan cerita abal-abal.
Dan akhirnya, satu kalimat pembuka di novel itu mendorong ku membaca lebih jauh : malam ini, semua cerita harus usai.
Di awal cerita, aku terkesan dengan Tania. Sosok yang digambarkan sebagai wanita sempurna (nyaris, mungkin). Dia tidak hanya cantik tapi juga pintar. Banyak pria yang menyukainya, bahkan ada yang secara terang-terangan menunjukkan rasa suka itu. Bagi sebagian besar wanita kukira itu merupakan suatu hal yang menyenangkan. Tapi tidak bagi Tania. Ia justru membenci hal-hal yang bersifat impulsive seperti itu. Love at first sight, mungkin tidak akan pernah dipahami oleh Tania. Bagaimana mungkin kau bisa mencintai seseorang hanya lewat pandangan? Dan kukira aku setuju dengan hal ini. Itu bukan cinta. Mungkin hanya suka atau terpesona.
Sampai ketika Tania bercerita tentang sosok dia. Malaikat bagi keluarga kecil Tania. Dia yang bernama Danar Danar. Lucu pada awalnya, kenapa namanya harus diulang? Dan akhirnya toh itu bukan hal penting. Karena pada cerita seterusnya Danar akan tergantikan dengan kata-kata dia. Paling hanya sesekali si Dede, adiknya Tania yang sesekali memanggilnya dengan nama Oom Danar.
Lalu kenapa dia menjadi begitu istimewa? Karena dia yang selalu hadir bak malaikat bagi mereka. dia yang selalu membantu mereka, mulai dari awal pertemuan. Kaki Tania yang terinjak paku payung dan pertemuan-pertemuan berikutnya yang menjadi awal cerita itu. Tania dan Dede akhirnya disekolahkan oleh Danar. Singkat cerita kehidupan keluarga Tania berubah jauh membaik semenjak kedatangan dia. Tania yang berusia sekitar 12 tahun, masih belum mengerti ada rasa yang mulai tumbuh untuk dia. Sampai akhirnya tanpa sadar Tania membiarkan rasa itu mekar. Tania remaja mulai menyadari rasa ini tidak biasa, ini cinta. Sampai akhirnya ia berpisah dengan dia untuk bersekolah di Singapura. Di sana ia belajar banyak hal. Dan kukira aku juga sama. Bagaimana Anne, teman sekamar Tania yang selalu menjadi tempat curhatnya, memberikan nasihat untuk merasionaliskan pikiran Tania.
Orang-orang yang sedang jatuh cinta memang cenderung menghubungkan satu hal dan hal lainnya. Mencari-cari penjelasan yang membuat hatinya senang. Tetapi aku sudah memutuskan untuk memilah mana simpul yang nyata serta mana simpul yang hanya berasal dari ego mimpiku.
Dan itu tidak sulit, sepanjang aku berpikir rasional.
That’s the keyword girls! Mungkin banyak yang terjebak di kondisi seperti ini. Mungkin juga diriku. Hey, bagaimanapun aku juga gadis remaja kan! Tapi tidak banyak yang mampu berpikir rasional tentang hal ini. Tania. Ia mengajarkan banyak hal lewat caranya mencintai dia. Bagaimana ia lebih memilih mengartikan perasaannya sebagai adik yang tidak rela kakaknya lebih dekat dengan orang lain dibanding dirinya. Bukan sebagai pencinta antara 2 manusia berbeda jenis kelamin. Ia lebih memilih berdamai dengan perasaannya. Mengubur hidup hidup dan mencoba melupakannya. Sibuk sana sini, bekerja siang malam. Sampai pada akhirnya teka-teki ini terkuak satu persatu. Potongan puzzle ini sampai ke sosok dia. Hanya dia yang bisa memecahkannya.
Well, kali ini aku akan bercerita tentang sosok dia.
dia. Kukira tak kan pernah menjadi sosok istimewa di cerita ini. Dan itu berubah ketika si Dede berperan penting menguraikan rahasia itu. dia yang selalu baik, tersenyum, dan memikirkan orang lain. dia yang selalu memakai kemeja biru kesukaannya. Bukan hanya itu. dia cerdas, dan cukup kaya. Entahlah, rasanya tak sulit menyukai orang seperti itu jika ada pada kenyataannya.
Dan kurasa aku tak perlu melanjutkan cerita ini lebih dalam. Hm, rasanya kurang pas menceritakan semua hal detil nya disini. Kalian harus membacanya sendiri :p
Setelah membaca novel ini. Aku langsung merasa aneh. Ada yang sakit di dada. Bukan myocardiac infark tentunya. Tapi, hal ini membuat ku berpikir ulang untuk membaca novel dengan genre romance. Aku tidak mempunyai masalah dengan akhir yang menyedihkan, *walaupun pada kenyataannya di akhir novel ini aku segera menutupnya dengan kasar dan duduk tergugu menahan tangis* malah menurutku itu semakin menyadarkan ku dengan realita. Tak semua hal yang indah harus terjadi di kehidupanku. Termasuk dalam urusan cinta. Hh..biasanya aku alergi membahas hal ini. Selalu menghindar jika membicarakannya di kehidupan nyata. Dan sekarang aku tak percaya, bisa membicarakan hal ini dengan gamblang (?) .
Well, cinta itu bukan memiliki, tapi memberi.
Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini.
Flirting itu biasa, tapi tak harus semuanya akan berakhir di sebuah hubungan kan?
Dan berbicara soal cinta, saya tertegun kembali mendengarkan sebuah lagu
If you ask me about love
And wanna know about it
I am so pleased
It’s everything about Allah
The pure love, to our soul
The creator of you and me,the heaven and whole universe
The ONE that made us all
And HE’s the guardian of HIS true believers
So when the time is hard
There’s no way to turn
As HE promise HE will always be there
To bless us with HIS love and HIS mercy
Coz, as HE promise HE will always be there
HE’s always watching us, guiding us
And HE knows what’s in all in our heart
So when you lose your way
To Allah you should turn
As HE promise HE will always be there…
HE bring ourselves from the darkness into the light
Subhanallah praise belongs to YOU for everything
Shouldn’t never feel afraid of anything
As long as we follow HIS guidance all the way
Through the short time we have in this life
Soon it all’ll be over
And we’ll be in His heaven and we’ll all be fine
So when the time gets hard
There’s no way to turn
As HE promise He will always be there
To bless us with HIS love and HIS mercy
Coz, as HE promise HE will always be there
HE’s always watching us, guiding us
And HE knows what’s in all in our heart
So when you lose your way
To Allah you should turn
As HE promise HE will always be there…
Allahu Akbar (many times)
So when the time gets hard
There’s no way to turn
As HE promise He will always be there
To bless us with HIS love and HIS mercy
Coz, as HE promise HE will always be there
HE’s always watching us, guiding us
And he knows what’s in all in our heart
So when you lose your way
To Allah you should turn
As HE promise HE will always be there…
Allahu Akbar (many times)
FYI, ini lagu nya maher zein. Gak sengaja dengar pas lagi bikin tugas, dan terhenyak….
Selama ini saya galau buat apa kalau selalu ada Dia yang selalu menerima cinta para hambaNya dan memberi lebih banyak yang dikira hambaNya….
Dia yang selalu Menjanjikan surga atas hambaNya yang shaleh..
Dan seharusnya aku sadar, itu bukan sekadar kata-kata. Janji Allah adalah yang paling pasti. Lalu mengapa masih menuntut dan mencari hal lain sementara begitu banyak yang Dia janjikan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s