move on

Image

mereka bilang ukhuwah itu berdasarkan keimanan. bukan hanya sekadar ikatan yang menakdirkan untuk selalu bersama. bukan hanya sekadar hubungan yang mengharuskan kita saling berbalas sapa. bukan, bukan serapuh itu. ini jauh lebih kuat, iman. makanya tak heran jika ada hadits yang bilang kalo tidak sempurna iman seseorang jika ia belum mampu mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.

lalu, bagaimana dengan imanku saat ini? compang campingkah?

aku punya seorang sahabat. i hope it’s not i was in bestfriend term with her. i hope desperately i always.

aku dan dia bertemu ketika SMA. di awal kehidupan asrama yang berat kami menjalin persahabatan. dan karena merasa cocok, jadilah kemana mana selalu berdua. kembar, kata mereka. cerita ini akan sangat datar menurutku kalau semuanya hanya berkisah tentang happy story. yah, badai itu ada dan akan selalu ada. kami merenggang. aku menjauh dan merasa harus move on *cieee* 

di tengah kegengsian ku untuk mendekat, kami terpisah. jarak yang cukup dekat kurasa tapi ada yang lebih jauh dari  itu semua yang memisahkan kami. ada lubang yang kurasa akulah penyebabnya. kukira ini semua akan baik-baik saja. tapi malam ini aku menyadari ini semua salah. ada yang salah selama ini dan aku selalu berusaha menutup mata, telinga bahkan hati ku pun rasanya enggan membicarakannya. hadits di atas tadi menohok ku sangat kuat. 

taukah apa yang membuat ku seperti malam ini? secara tidak sengaja aku menemukan notes nya di facebook. dia penulis yang handal dengan untaian bahasa nya yang seindah mutiara. sastrawati jika tidak berlebihan aku menyebutnya. dia semakin aah, apa ya? membaca tulisan nya membuat ku menyadari, bukan dia yang berubah. hanya aku yang semakin terpuruk. notesnya yang penuh dengan nasihat, penyemangat, dan tentang kata-kata berkaitan dengan dakwah ini. aku sedih. benar-benar sedih. bukankah dulu selalu aku yang berada di sisi terdekatnya. bukankah kita dulu bersama-sama mencapai target dan saling menyemangati? dan kenapa sekarang seolah olah aku ditinggalkan? kenapa sepertinya dia lebih bersinar sekarang?

aku pernah mengunjunginya beberapa waktu lalu. ku kira pertemuan kita akan hangat. tapi aku melihat bukan binaran matanya, tapi sorot kecewa. bukan obrolan hangat yang terjadi, tapi hanya diam. bukan ini yang kuharapkan! teriak batinku. dan perjumpaan itu tidak berbuah apa-apa sampai malam tadi ketika aku mulai menyadari semuanya.

dia kecewa. 

tenang saja, penampilan ku tidak berubah kok! insya Allah bobroknya hati ku saat ini tidak akan sampai memunculkan keinginan untuk melanggar batas syariat yang ditetapkanNya. 

mungkin dia yang pernah dekat dengan ku merasakan ada yang berubah dariku. aku memang berubah. sangat berbeda dari diriku yang dulu. hatiku tengah mengalami proses inflamasi kronis, karena aku yang terlalu lama menyadarinya. mungkin bernanah. 

bukan salahnya lagi ketika memilih menjauh. tidak sefikrah mungkin. ah~ kukira aku tidak akan pernah mengalami fase ini dulu. ternyata kini kualami bahkan hingga titik terendah. aku ingin ini berakhir. aku ingin seperti dulu. boleh kah?

tapi kuharap ini hanya fase persinggahan ku saja. aku tidak ingin berlama-lama transit di sini. melelahkan, kau tau? aku ingin segera menyusulmu. saling bertanya hafalan, kondisi dakwah di kampus, dan berbagi cerita lainnya. sorot mata itu, aku ingin melihatnya bersinar hangat ketika menyambutku. maaf pernah membuatmu kecewa. doakan aku. insyaAllah, cerita ini tidak akan terulang lagi. kisah menyedihkan tentang keimanan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s